Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Kultum: Memetik Hikmah Dari Peristiwa Hijrah

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.


Yang terhormat para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt.

Mengawali jumpa kita melalui  mimbar kultum kali ini, marilahkita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam, sebab berkat rahmat, anugerah dan petunjuk-Nya  pada saat ini, kita  bisa bertemu muka dan berkumpul di tempat ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat  dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw  yang telah mengeluarkan manusia dari gelap gulita kekafiran menuju pada cahaya kebenaran,yaitu agama Islam.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Ketika kita memperhatikan ayat-ayat AI-Qur'an yang berkenaan dengan hijrah selalu dirangkai dengan pernyataan iman dan jihad. Sebagaimana firman Allah swt berikut ini : 

"Orang-orang yang berimati dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." (QS. At-Taubah: 20-21).

Dari ayat tersebut kiranya dapatlah kita pahami bahwa sikap hijrah haruslah didasarkan pada keimanan dan motivasi jihad, semangat perjuangan  yang didasarkan keyakinan kepada Allah untuk mendapatkan rahmat  dan keridhaan-Nya.

Rasulullah saw dan para sahabat dalam menjalankan  hijrah tidak saja mengorbankan harta benda, cucuran keringat, tetapi jiwa dan raga pun menjadi dipertaruhkan. Bahkan ketika mereka menghadapi saat-saat yang genting dan membahayakan yang sangat boleh jadi mengancam keselamatan jiwanya.

Tetapi karena hijrah sebagai sebuah bentuk jihad atau perjuangan yang didasarkan pada keimanan. Sehingga walau bagaimanapun pahit getirnya penderitaan yang menimpa mereka, berpisah meninggalkan kampung halaman dan harta benda yang bertahun-tahun mereka miliki turun temurun, meninggalkan sanak keluarga yang clicintainya, menempuh perjalanan  gurun  pasir yang cukup jauh dan melelahkan, mereka dapat melakukan dengan ringan penuh keyakinan akan pertolongan Allah SWT.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Dalam  konteks  kekinian di era global di mana arus budaya sekuler begitu derasnya membobol tanggul-tanggul peradaban kita yang elok. Berhala-berhala modern ada di mana-mana,   kemaksiatan merajalela, kemungkaran menggila-gila, yang oleh sebagian orang  dinyatakan sebagai  jahiliyah kedua (jahiliyali modern), maka pelajaran penting yang harus dipetik dari peristiwa hijrah dan diterapkan dalam kehidupan kita ini ialah hijrah yang bersifat mental dan hati nurani (hijrah qalbiyah).

Secara garis besar pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah itu adalah:

Pertama: Kita harus memiliki keteguhan hati dan kesabaran di dalam memperjuangkan cita-cita luhur, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh RasuIullah saw. Walaupun kesulitan terus menghadang, tekanan dan intimidasi timpa menimpa kaum muslimin terus tetap tegak berdiri dalam memperjuangkan  dan rnenegakkan komitmen keimanannya.

Kedua: Kesediaan berkurban, karena setiap perjuangan tentu membutuhkan pengorbanan. Demi tetap tegaknya agama Allah, kita harus berani berkurban, mungkin dengan mengorbankan  kesenangan diri, korban perasaan, harta benda bahkah terkadang sampai pengorbanan nyawa.

Ketiga: Rasa optimisme memandang ke depan yang lebih baik akan tegaknya kebenaran. Perjuangan tidak boleh surut mundur ke belakang, cita-cita mulia harus tetap ditegakkan tanpa mengenal putus asa, karena memang Islam dirancang Tuhan sebagai agama yang luhur dan pada akhirnya kebenaran agama Allah-lah yang akan menang dan kebatilan pasti akan binasa.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Mengakhiri kultum di kesempatan kali ini, marilah kita berdo'a semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk­Nya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi hidup ini dengan nilai­nilai perjuangan demi izzul lslam wal muslimin.  Demikianlah yang dapat  saya sampaikan,  terima  kasih atas  perhatiannya  dan mohon maaf atas kesalahan  dan kurang  lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Hukum Wanita Minta Maskawin Mahal

Sajadah Muslim ~ Apakah syariat Islam memperkenankan wanita meminta maskawin yang mahal? Apakah boleh atau tidak, nah dibawah ini kami jabarkan.


Bagi wanita   muslimah  meminta maskawin yang nilainya sangat  tinggi  (mahal),  bukanlah sifat  yang terpuji. Karena, apapun yang dimiliki oleh sang suami (nanti dalam hidup berumah tangga)  adalah miliknya juga.

Sebagai orang tua Muslim, hendaklah jangan membuat kesulitan dalam masalah maskawin yang mahal. Karena, jika orang tua meminta maskawin terhadap anaknya yang sulit dijangkau oleh seorang lelaki yang hendak menikahi anaknya, maka sama halnya ia telah memberi peluang jalan yang haram. Yang berarti pula memberi kemudahan terhadap kerusakan. Betapa tidak!. Dengan tuntutan maskawin yang sangat tinggi, maka para generasi muda bisa juga menjadi enggan kawin dan akhirnya pergi ke tempat-tempat pel*acuran. Bukankah demikian akibatnya nanti?

Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda:

“Siapa (wanita) yang meringankan maskawinnya, maka akan diperbanyak berkahnya”.

Nabi SAW sendiri ketika mengawinkan putri-putrinya, Beliau sangat meringankan biaya maskawinnya. Beliau tidak  membuat syarat dengan maskawin yang sangat tinggi, bahkan malah memilihkan biaya maskawin yang sangat ringan. 

Oleh Ustadz Labib Mz

Khutbah Idul Adha: Kebersamaan Dalam Ibadah Haji

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,...
wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa.

Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal - kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku

Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.

Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.


Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia


"Dan Allah mewajibkan bagi manusia untuk berHaji ke Baitullah bagi orang yang mampu pergi kesana".


Adapun yang termasuk Istithaah atau mampu, yaitu meliputi biaya perjalanan, biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, kesehatan dan keamanan serta mengetahui bagaimana melaksanakan manasik Haji.

Allahu Akbar 3x walillahil hamdulillah

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Untuk mendapatkan kualitas Haji mabrur, bukan hanya dilihat pada saat jamaah Haji berada ditanah suci, akan tetapi sudah berawal dari  niat  yang  ikhlas,  biaya perjalanan Haji yang halal. Dan yang terpenting ujian Haji mabrur adalah setelah kembali ke tanah air, hidup ditengah masyarakat, apakah mampu memberikan contoh dan teladan yang baik sebagai panutan ummat, dalam kepribadian, akhlak, ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.

Allah SWT  dalam Al-Quran surat Al Hajji ayat 34-35 berfirman : 

"Dan berilah berita gembira kepada orang yang  tunduk dan patuh kepadanya. Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah SWT gemetar hati mereka, dan yang bersabar atas musibah yang menimpa mereka, penegak-penegak shalat dan orang-orang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rezkikan kepada mereka".

Ayat ini menggambaran secara utuh dan sempurna tentang Haji Mabrur. Dalam hadits Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa Haji mabrur itu suka memberi makan dan ucapannya lembut. Induk dari hadits tersebut adalah ayat diatas. Adapun yang dimaksud dengan berita gembira pada ayat 34 adalah syurga.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Bagi kaum Muslimin yang ada di tanah air, tugas ibadah kita adalah menegakkan shalat Idul Adha dan berkurban. Perintah untuk shalat Idul Adha dan berkurban terdapat dalam surat Al Kautsar yang berbunyi:

"Sesungguhnya kami pasti memberikan kepadamu sungai  di Surga maka dirikanlah karena Tuhanmu dan berkorbanlah".

Sebagian ulama berpendapat bahwa Al Kautsar adalah nama telaga yang berada didalam syurga.

Sejarah kurban atau udhiah, berasal dari sejarah Nabi Ibrahim AS ketika mengurbankan putranya Ismail atas perintah Allah kepadanya melalui mimpi. Oleh karena Nabi Ibrahim, Ismail dan ibunya Siti Hajar ikhlas melaksanakan perintah Allah, maka Ismail diganti oleh Allah SWT dengan seekor kibas yang besar seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shaffat ayat 107 :

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar" 

Allahu Akbar 3x waIillahii hamd

Adapun urutan-urutan atau sistematika ibadah kita pada hari raya Idul Adha, dijelaskan  oleh Rasulullah SAW  dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari : 

"Sesungguhnya yang pertama kami mulai pada hari itu adalah bahwa kami shalat,  kemudian kami pulang lalu kami berkurban. Maka barang siapa yang berbuat seperti ini maka sungguh telah menepati sunnah kami".

Maksudnya bahwa penyembelihan binatang kurban tidak dilakukan segera setelah khatib turun dari mimbar. Tetapi kita semua kembali dulu ke rumah, istirahat lalu menyembelih binatang kurban.

Dalam berkurban hendaklah dengan ikhlas mencari ridha Allah SWT dalam AI-Qur'an surat Al Hajji ayat 37 Allah SWT berfirman :

"Daging dan darah Udhiyah itu, tidaklah mencapai Allah, akan tetapi yang akan mencapai Allah adalah ketaqwaan dan keikhlasan kamu sekalian".

Yang penting kita perhatikan agar kurban kita makbul adalah agar sebahagian besar kurban kita dibagikan secara mentah kepada fakir miskin. Kita dapat mengambil sedikit sebagai berkah. Dalam AI­Qur'an surat Al Hajji ayat 28 Allah SWT berfirman :

"Maka makanlah sebagian kecil dari padanya dan sebagian besarnya berikanlah kepada orang-orang sengsara lagi fakir".

Dan pada surat Al Hajji ayat 36 ada dijelaskan bahwa daging kurban diberikan kepada orang yang meminta dan orang yang tidak meminta, artinya bahwa daging kurban dapat diberikan kepada ummat Islam pada umumnya. Bahkan bila ummat Islam sudah dapat semua, daging kurban dapat diberikan kepada orang yang non Muslim. Dan disinilah salah satu makna rahmatan lil alamin. Jadi Muhamnmad SAW dan agamanya adalah rahmat bagi seluruh ummat manusia.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang penuh kasih sayang, bantu-membantu, tolong-menolong dalam hidup bermasyarakat. Gambaran atau ciri-ciri masyarakat Muslim digambarkan oleh Allah SWT dalam surat Al Balad ayat 37 :

"Dan ia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan berpesan untuk berkasih sayang".

Pada akhimya mari kita berdoa kehadirat Allah SWT agar jamaah Haji kita tahun ini, termasuk Haji mabrur dan bagi kita yang mukmin semoga Allah menerima shalat Id dan ibadah kita dan semoga terciptalah masyarakat marhamah di lingkungan kita masing-masing. Amin Ya Rabbal Alamin.

Doa Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Khutbah Jumat: Keutamaan Membaca, Memahami Dan Mengamalkan Al Quran

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, arrahmanirrahim maliki yaumid din, wa shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin Nabiyyina wa imamil mursalin, wa ‘ala alihi thahiriina wa shahabatihi ajma’in, amma ba’du.


Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan AI-Qur'an untuk menjadi petunjuk bagi manusia terutama dalam membedakan yang hak dan yang bathil.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya serta pengikutnya yang senantiasa menjaga dan mengamalkan sunnahnya.

Selanjutnya mari kita perbaiki Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Pertama-tama ada baiknya jika kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur'an melalui penjelasan dari kitab suci AI-Qur'an sendiri. Dalam surat Fathir ayat 29 Allah SWT berfirman : 

"Sesungguhnya orang-orang  yang membaca AI-Qur 'an  dan menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang telah Kami anugerahkan kepada-Nya secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan mereka itu mengaharapkan perniagaan yang  tidak akan merugi".

Maksudnya bahwa orang-orang yang rajin membaca AI-Qur'an akan memperoleh pahala yang banyak. Hal ini dapat dilihat dari Hadits Rasulullah SAW:

"Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah ia akan mendapat satu kebajikan atau pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali”. (HR. At-Tarmidzi)

Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkanoleh Baihaqi Beliau bersabda :

"Membaca AI-Qur'an di dalam shalat lebih mulia dari pada membaca AI-Qur 'an di luar shalat".

Dan di dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani Beliau mengatakan bahwa "bacaan seseorang bila tidak langsung dalam Al-Qur'an mendapatkan seribu derajat dan bila kita baca langsung dalam Mushaf (Kitab Al-Qur'an) pahalanya dilipatgandakan dua kali menjadi dua ribu derajat.

Jadi bila kita membaca surat Yaasin dibuku biasa, pahalanya seribu dan bila langsung dalam kitab suci Al-Qur'an pahalanya menjadi dua ribu.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Dalam sebuah Hadits lain yang diriwayatkan dari Annas oleh Al-Iman Muhammad bin Nasr, Rasulullah SAW bersabda :

"Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Qur'an dihadiri Malaikat dan Syaitan-Syaitan  menjauh, ahli rumah akan diluaskan rezkinya, kebaikannya banyak dan kejelekannya sedikit".

Karena itu hendaknya sebagai ummat Islam kita diwajibkan membaca Al-Qur'an untuk memperoleh ridha Allah SWT dan tentu akan lebih baik lagi apabila disamping membacanya juga memahami makna, arti dan kandungannya.

Dalam Al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 82 Allah SWT berfirman:

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya''.

Semua isi Al-Qur'an sejalan dan saling melengkapi, walaupun terdapat beberapa kali pengulangan ayat-ayatnya namun tidak membosankan membacanya. 

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Keutamaan memahami AI-Qur'an  juga sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadits Rasulullah SAW:

"Barang siapa berbicara berdasarkan Al-Qur'an ia pasti benar, dan barang siapa yang mengamalkannya ia diberi pahala dan barang siapa yang  memutuskan perkara berdasarkan Al-Qur'an pasti adil, dan barang siapa yang mengajak kepada Al-Qur’an ia  diberi petunjuk kepada jalan yang lurus".

Dapat kita bayangkan betapa banyak keuntungan membaca, memahami dan mengamalkan AI-Qur'an bahkan sampai di padang Mahsyar tempat berkumpulnya seluruh manusia dari seluruh generasi yang  pernah hidup  di dunia  AI-Qur'an akan  memberikan syafaat kepada para pembaca  dan pengamal Al-Qur'an.  Dalam  salah  satu

Hadits Rasulullah SAW dijelaskan : 

"Bacalah Al-Qur'an karena pada hari kiamat ia akan memohonkan syafaat kepada Allah SWT bagi ahli Al-Qur'an".

Adapun yang dimaksud dengan ahli AI-Qur'an adalah orang yang membaca, memahami dan mengamalkan AI-Qur'an. Sebagairnana Rasulullah SAW dalam sebuah hadits bersabda :

"Barang siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya lalu ia mati dalam jama'ah umat Islam maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan bersama para Nabi dan Malaikat".

Yang dimaksud mati dalam jama'ah Islam, ia tidak masuk dalam aliran Islam sesat (sempalan) seperti aliran Ahmadiyah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah Nabi yang terakhir.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur kehadirat Allah SWT karena mayoritas masyakat  Indonesia adalah beragama Islam dan jika ajaran, isi  dan  kandungan Al-Qur'an  dapat  diamalkan  di Negara kita, maka bangsa dan masyaraklat Indonesia akan hidup dalam kedaan adil dan makmur, umpamanya kita dapat mengamalkan firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 90:

"Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan".

Ulama berpendapat bahwa adil, ikhsan dan membantu kerabat (orang miskin) merupakan tiga induk akhlak terpuji, sedangkan dosa, kemungkaran dan permusuhan merupakan tiga induk akhlak yang tercela.

Yang dimaksud keadilan disini mencakup:
  1. Keadilan dalam hubungan antar hamba dengan Allah dengan cara menjalankan kewajibannya kepada Allah.
  2. Keadilan pada diri sendiri artinya tidak menganiaya dan merusak diri sendiri.
  3. Keadilan kepada makhluk artinya selalu memberi nasehat dan tidak berkhianat.
Kemudian Ikhsan mencakup semua perbuatan dan amal yang bermanfaat bagi manusia yang dikerjakan secara ikhlas. Serta membantu kerabat dapat diwujudkan melalui pemberian nafkah terutama memberikan santunan dan perhatian terhadap fakir miskin. 

Sedangkan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT adalah al­Fahsya atau dosa seperti zina, kemungkaran seperti khamr dan perjudian, dan permusuhan seperti menganiaya dan memutuskan hubungan dengan orang lain.

Sebagai bentuk pengamalan Al-Qur'an marilah kita amalkan firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 2 :

"Hendaklah kamu bertolong-tolongan dalam kebajikan dan taqwa janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan".

Pada akhirnya marilah kita jadikan AI-Qur'an sebagai pertunjuk hidup kita yang akan memberikan    arah, nasehat dan bimbingan bagi  tercapainya kebahagiaan yang hakiki dan kebaikan yang abadi dari dunia hingga akhirat. Amin Ya Rabbal 'Alamin

Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Khutbah Jumat: Tuntunan Al Quran Dalam Menjalani Kehidupan

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.

 
Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia
 
Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan Syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan AI-Qur'an untuk menjadi petunjuk bagi manusia terutama dalam memberikan arah dan tujuan hidup di muka bumi ini hingga di akhirat kelak.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang senantiasa rnernberi suri tauladan dalam menjalani kehidupan.

Selanjutnya mari kita perbaiki Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Manusia terlahir di dunia adalah diciptakan dan difasilitasi oleh Allah  SWT, manusia adalah khalifah  Allah  SWT  di  muka  bumi. 

Sebelum kita lahir semua fasilitas dan kemudahan untuk hidup telah disiapkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah. Tetapi hendaknya kita maklumi bahwa kita  lahir di dunia ini sebagai makhluk yang paling mulia adalah berkat jasa dari kedua orang tua kita (ayah dan ibu). Itulah sebabnya maka Allah  SWT memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam AlQur'an surat al ­Ahqaaf  ayat 15 Allah berfirman : 

"Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya (ibu dan bapaknya)”.

Berbuat baik kepada kedua orang tua dapat diwujudkan melalui tunduk dan patuh kepada-Nya, membantu bekerja, berucap dengan lemah lembut, memberi nafkah, mendo'akannya dikala masih hidup terlebih jika sudah mati, dll. Karena itu kita selalu diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah  SWT dan kepada kedua orang tua, firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 14 :

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu dan kepada sayalah kamu kembali".

Secara singkat  dapat dikatakan  bahwa  bersyukur  kepada  Allah adalah  beribadah  kepada-Nya dan bersyukur  kepada  orang  tua adalah berbuat  baik kepada-Nya  dalam arti yang seluas-luasnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Lanjutan dari ayat 15 surat al-Ahqaaf disebutkan : 

"Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya hingga menyapihnya selama tiga puluh bulan"

Pada ayat ini Allah SWT menggambarkan betapa besarnya jasa dan derita seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anaknya, ketika hendak melahirkan ia mempertaruhkan  nyawanya, demikian pula setelah melahirkan ia menyusui, merawat, menjaga  dan mendidiknya hingga anaknya dewasa. Demikian pula seorang bapak yang dengan susah payah mencari nafkah dan penghidupan, menyediakan sandang dan pangan dan semacamnya guna menjaga kelangsungan hidup keluarga, dan tentu masih sangat banyak jasa orang tua kepada kita yang tak mungkin disebutkan satu persatu.

Karena  itu  amatlah  tepat jawaban  Rasulullah SAW, ketika beliau  ditanya  oleh  seorang  sahabat kepada  siapakah saya harus berbuat baik ? Lalu Rasulullah menjawab "kepada Ibumu ", sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa? Rasulullah menjawab "kepada Ibumu", sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa ? Rasulullah menjawab "kepada Ibumu ", dan sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa? Rasulullah menjawab "kepada Bapakmu".  Sehingga ada hadits bahwa Syurga di bawah telapak kaki Ibu.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Ada yang menarik untuk dijelaskan pada surat Al-Ahqaaf ayat 15 tadi, bahwa Ibu mengandung  serta menyusui selama tiga puluh bulan, artinya kurang tepat jika ada seorang perempuan yang melahirkan pada setiap tahunnya, seharusnya jarak yang ideal adalah dua setengah tahun, sehingga program pengaturan kependudukan melalui program keluarga berencana hakekatnya adalah,  mengacu pada  tuntunan  Al-Qur'an. Pada  kelanjutan ayat  15 dari  surat Al­ Ahqaaf adalah :

"Sehingga apabila dia telah dewasa dan berumur empat puluh tahun ia berdo'a: Ya Tuhanku tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada Ibu Bapakku dan supaya aku dapat beramal shaleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku, sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri".

Berdasarkan ayat tersebut bahwa usia dewasa dan kematangan seorang manusia adalah empat puluh tahun, sehingga Nabi kita Muhammad SAW diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika beliau berumur empat puluh tahun. Dan ketika sudah mencapai usia empat puluh tahun maka kewajiban dan tanggung jawabnya semakin banyak.

Berdasarkan keterangan ayat tersebut, ada beberapa tuntunan yang menjadi pelajaran kita :
  1. Hendaknya kita mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita dan kepada kedua orang tua kita. Inti dan hakekat mensyukuri nikmat Allah  adalah beriman dan beribadah kepadanya.
  2. Sebagai orang yang sudah berusia matang hendaknya kita banyak beramal shaleh yang diridhai oleh Allah  SWT, hendaknya kita memahami bahwa hakekat hidup ini haruslah diisi dengan amal shaleh. Dalam surat Al-Mulk ayat 2, yang artinya : "Dialah Allah SWT yang telah menciptakan hidup dan mati untuk mengetahui siapakah diantara kita yang paling baik amalnya, agar amal shaleh yang kita perbuat diridhai oleh Allah SWT, maka kita harus kerjakan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
  3. Hendaknya kita bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat artinya menyesali segala perbuatan  salah  atau  dosa  yang  pernah  kita lakukan  seiring dengan penyesalan terhadap  kesalahan  itu  kita banyak beribadah kepada Allah SWT.
  4. Kita berserah diri artinya tunduk dan patuh semata-mata karena Allah, sebagaimana firman  Allah SWT dalam surat AI-Imran ayat 102 : "Wahai orang-orang yang beriman hendaklah      kamu bertaqwa kepada Allah  SWT dengan sebaik-baiknya,  dan jangan kamu mati sebelum kamu menjadi orang Muslim”.
Mudah-mudahan dengan mengamalkan tuntunan Al-Qur'an dalam kehidupan kita akan semakin terarah dan terkontrol dengan baik.

Doa Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Jika Wanita Menerima Pinangan Setelah Di Pinang

Sajadah Muslim ~ Bagaimana hukumnya wanita menerima pinangan yang sebelumnya sudah  dipinang orang lain ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, ulama 'Jumhur telah sepakat menetapkan pengharaman terhadap wanita yang menerima pinangan sedang dalam pinangan orang lain. Menurut Al Khathabi, larangan ini untuk pengarahan, bukan untuk pengharaman yang membatalkan 'aqad. Dan yang demikian ini kebanyakan pendapat ahli fiqih.         
                                       ,    .
Mereka beralasan sebuah hadits yang bersumber dari 'Uqbah bin Amir ra bahwa Nabi saw pernah bersabda : "Orang mukmin itu saudara orang mukmin lainnya. Tidak dihalalkan bagi seorang mukmin untuk berjual-beli atas jual-beli saudaranya, dan dia tidak boleh meminang atas pinangan saudaranya hingga ia membatalkannya". (HR. Ahmad dan Muslim)

Walhasil, wanita menerima pinangan yang berusaha membatalkan pinangan pertama, karena ada orang lain yang meminangnya. Sehingga ia berbuat semaunya sendiri terhadap si peminang pertama. Nah, dengan perbuatan ini dia dikategorikan sebagai wanita yang telah berbuat dosa besar, yang harus dijauhi. Dan Allah Yang Maha Tahu keadaannya.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Khutbah Jumat: Menyambut Hari Proklamasi

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.


 
Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia
 
Puji dan syukur kita persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, yang alhamdulillah kita kaum Muslimin adalah penduduk mayoritas di negeri tercinta kita ini.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi besar kita Muhammad SAW beserta kepada sekalian sahabat dan keluarganya yang telah memberikan tauladan dan contoh yang sebaik-baiknya kepada kita sebagaimana hidup sebagai Muslim yang baik.

Kemudian dari pada itu marilah kita mempertinggi kualitas iman dan taqwa kita, mudah-mudahan kita mendapat keselamatan di dunia dan di akhirat.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Sebagaimana yang kita maklumi bersama bahwa pada saat ini kita sedang berada dalam suasana menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, kemerdekaan bangsa Indonesia adalah momentum yang amat membahagiakan, karena dalam masa penjajahan tidak banyak yang dapat  kita perbuat untuk kejayaan bangsa, tanah air dan agama kita. Karena kekayaan bumi  ini sementara  justru lebih banyak dinikmati oleh bangsa yang menjajah kita. Golongan yang terdidik dan terpelajar   dapat dihitung dengan jari, kehidupan beragama juga  amat menyedihkan karena  yang diizinkan   oleh penjajah hanyalah spritual, tetapi ajaran Islam berkaitan dengan ilmu, politik dan perjuangan, tidak pernah diberi peluang.

Justru itu proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17-08-1945  yang  bertepatan   dengan bulan suci ramadhan, sungguh amat membahagiakan seluruh bangsa Indonesia dan khususnya ummat Islam, kemerdekaan kita juga disambut hangat oleh umat  Islam  seluruh dunia, Karena jumlah ummat Islam Indonesia adalah yang terbanyak  diseluruh dunia. Maka berlomba-lombalah negeri Muslim memberikan pengakuan. Menurut hukum international tiga saja negara  yang mengakui kita,  maka  kita  sudah  resmi sebagai negara yang merdeka. Mesir adalah  negara  Muslim yang pertama kali mengakui kemerdekaan kita.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Kemerdekaan adalah sunnatullah yang menjadi kehendak dan keinginan Allah SWT. Hal itu dapat kita baca dalam Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 5 :

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, dan hendak mengajarkan mereka orang-orang yang mewarisi bumi dan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi”.

Ayat ini amat tepat dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat­saat menjelang kemerdekaan sampai sesudah proklamasi kemerdekaan dan hingga masa sekarang ini, dan semoga kemerdekaan kita tidak terusik atau tidak terganggu lagi oleh bangsa-bangsa penjajah. Masa penjajahan di Indonesia  yaitu masa sebelum kita merdeka adalah sama dengan nasib Nabi dan ummat  Islam  dalam  periode   Makkah ummat Islam adalah warga negara kelas dua yang selalu dalam keadaan takut, tidak bebas  berubah. Jadi periode Makkah adalah masa penjajahan, dan hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah  pada  hakekatnya adalah proklamasi  kemerdekaan  ummat  Islam.  Hijrahnya  Nabi  adalah  bahwa ummat   Islam   sudah   punya tanah air,  punya   negara,  jadi   periode Madinah   adalah   periode   kemerdekaan, periode pelaksanaan agama Islam,  periode  pembangunan  dan periode  keamanan   dan ketentraman. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat an-Nur ayat 55 :

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shaleh, bahwa Dia akan sungguh­sungguh menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana ia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang  telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia  benar-benar menukar keadaan mereka, setelah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentosa''.

Hasil proklamasi kemerdekaan adalah persis apa yang telah di firmankan oleh Allah SWT, yaitu kita merdeka, kita dapat mengamalkan agama kita dan kita merasakan keamanan yang hakiki. Karenanya  adalah wajar  bila  kita perhatikan dengan baik firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur maka kami  akan menambah nikmat kepadamu".

Bila kita pandai mensyukuri nikmat maka Allah akan memberikan nikmat yang lebih banyak lagi, tetapi bila kita tidak mau bersyukur maka kita akan dikenakan siksa oleh Allah SWT.

Menurut para ulama untuk mensyukuri nikmat ada 5 urutan­urutannya:
  1. Kita menyebut nama Allah dan menyebutkan kebaikan­kebaikannya dengan mengucapkan alhamdulillah berarti kita telah menyebut nama Allah dan memuji kepada-Nya. Menurut Nabi kita Muhammad SAW induk dari memuji kepada Allah adalah "alhamdulillah" dan di dalam kata ini sudah tersirat doa ya Allah tambahkanlah nikmat-Mu kepadaku.
  2. Kita meyakini bahwa pemberi nikmat adalah Allah SWT jadi semua nikmat adalah bersumber dari Allah SWT.
  3. Kita menggambarkan dalam pikiran kita betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Katakanlah dengan nikmat kemerdekaan kita bisa memerintah negara kita   sendiri, kita memiliki tanah air, yang seterusnya akan diwarisi oleh generasi­generasi mendatang dan manfaat-manfaat lainnya.
  4. Dengan selesai menggambarkan besarnya nikmat kemerdekaan lalu kita gembira dan bahagia.
  5. Dan langkah terakhir adalah membuktikan kegembiraan kita dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT, seperti rajin beribadah, tolong menolong mendirikan rumah-rumah ibadah, gedung sekolah dsb.
Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi dan kelangsungan kita yang kaya dan indah ini, maka ada baiknya kita angkat salah satu ayat suci Al-Qur'an dalam surat al-Imran ayat 200:

"Wahai sekalian orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian bersabar dan saling menyabarkan dan jagalah  batas-batas negaramu dan  bertaqwalah kepada Allah,  mudah-mudahan  kamu  mendapat kebahagiaan".

Ayat ini menuntut kita untuk mengerjakan 4 amalan, yaitu :
  • Kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersabar. Dan ada Hadits Nabi yang mengatakan bahwa sabar itu ada tiga komponennya yaitu sabar dalam menghadapi musibah dan kesulitan, sabar dalam taat kepada Allah dan sabar dalam menjaga diri kita agar tidak melakukan dosa dan kejahatan.
  • Kita diperintahkan agar kita saling menyabarkan, jadi  kita saling menyabarkan, sehingga dengan demikian terciptalah ketahanan iman,  ketahanan ibadah, ketahanan ekonomi  dan   ketahanan nasional.
  • Kita diperintahkan untuk menjaga batas-batas negara atau tanah air kita, supaya tidak  dimasuki  oleh  musibah  baik  secara  tertutup (infiltrasi) maupun secara terbuka (agressi).
  • Kita diperintahkan untuk bertaqwa, karena taqwa mengundang kemakmuran lahir batin dari Allah SWT seperti firman-Nya dalam surat Al-A'raf ayat 96 : "Andai  kata penduduk negeri ini benar-benar beriman dan betaqwa kepada Allah SWT pasti akan kami bukakan berkat dari langit berkat dari dalam bumi".
Pada akhirnya marilah kita sekalian mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan melaksanakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, mengerjakan semua perintah Allah SWT dan meninggalkan semua larangannya.

Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Kultum: Jihadun Nafs Tak Berarti Memasung Diri

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.

 
Kepada yang terhormat paraustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan. 
                           .
Sebelum saya melanjutkan apa yang ingin saya sampaikan dalam kesernpatan yang mulia, melalui mimbar kultum kali ini, marilah terlebih dahulu kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat. Illahi..

Rabbi, yang senantiasa memberikan rahmat taufiq dan petunjuk-Nya kepada kita sehingga pada saat ini, kita bisa bertatap muka di tempat ini, tanpa ada suatu halangan apapun. 

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Sebagian umat Islam ada yang entah sadar atau tidak cenderung menggembosi spirit Islam dengan cara memanipulasi pemahaman ajaran Islam. Konsep-konsep Islam yang pada dasarnya memberi andil besar dalam membangkitkan spirit, telah menjadi virus yang melumpuhkan jiwa. Misalnya, konsep tentang jihadun nafs disalah artikan menjadi sibuk dengan diri sendiri. Padahal konsep jihadun nafs ini sebenarnya dimaksudkan untuk menggalang kekuatan spiritual  dalam keadaan yang disukai ataupun yang tidak disukai. Dengan jihadun  nafsu, diharapkan terhimpun  kekuatan besar yang sangat potensial di dalam diri manusia. Karena segala bentuk keinginan yang tidak sejalan dengan tujuan terlebih dulu telah ditundukkan.

Jihadun nafs merupakan cara yang sangat efektif untuk mencapai kekuatan yang terkonsentrasi pada kesatuan dan integritas diri. Ia juga merupakan sebuah bentuk kesatuan keinginan, keterpaduan program yang bersinergi potensial untuk mencapai suatu tujuan. Antara unsur-unsur jiwa tidak terjadi benturan, pikiran dan perbuatan menjadi sejalan, keinginan pikiran dan kemauan hati menjadi setujuan. Hal inilah yang akan menimbulkan kekuatan spiritual yang bisa terwujud menjadi kekuatan aktual.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Dalam kenyataanya, memang terdapat banyak orang yang tertindas oleh nafsunya, karena nafsu bisa menjadi tiran dan bahkan bisa dijadikan sebagai tuhan, oleh orang yang diperbudaknya. Perhatikan peringatan Allah swt. Dalam firman-Nya: 

"Apakah kamu tidak melihat orang yang  menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya  petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?'' (QS.AI-Jatsiyah : 23).

Manusia, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat tersebut, nyata-nyata dalam kesesatan yang  besar dan hidupnya tidak akan efektif, waktunya akan habis terserap hanya untuk memenuhi  keinginan nafsunya, energinya akan habis buat melayani nafsunya belaka, bahkan orang lain pun  bisa  tertindas  dan  terseret oleh kejahatannya. Na'udzu billahi min dzalik.

Oleh sebab itu, Islam perlu mencanangkan jihadun nafs. Manusia dituntut untuk berusaha dan berjuang membersihkan dirinya (jihadun nafs)  dengan sungguh-sungguh dari keinginan-keinginan nafsu yang akan memperbudaknya.

Sebagai anugerah Tuhan, nafsu tidak harus dibabat, dipasung dan dibasmi habis. Tetapi harus dikendalikan, diarahkan dan dikelola sehingga menjadi kekuatan  dan energi  positif. Dengan cara itu  keinginan yang baik bisa tersalurkan dan yang kurang baik atau bahkan tidak baik bisa dinetralkan    lalu diperbaiki.

Jihadun nafs, tidak berarti menutup diri rapat-rapat dari pergaulan dunia luar, karena khawatir nafsunya akan bergolak  dan  tak mampu mengendalikannya, tidak pula dengan memenjarakan dan memasung diri di balik dinding tebal yang memisahkan dirinya dari dunia luar, bukan demi menyusun kekuatan baru dan juga bukan hendak melakukan perlawanan,  tetapi  menyerah untuk  selama-lamanya. Apalagi sampai menyakiti dirinya, mengebiri segala keinginan, memasung segala naluri kemanusiaannya, tanpa memberi saluran sedikitpun dalam kehidupan luas yang harus dikelola dengan baik, sebagaimana mandat yang diembannya sebagi khalifatullah fil ardh. Kita harus berani   bertandang  ke gelanggang  menyandang  Islam dengan tawaran-tawaran  yang menawan. Selamat berjuang. 

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Mengakhiri kultum di kesempatan kali ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada  kita,  sehingga kita mampu mengisi hidup ini dengan nilai-nilai positif yang bermanfaat, amin. Demikianlah, terirna kasih atas perhatiannya dan  mohon  maaf  atas  kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma'in,  was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh : Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Kultum: Mutu Dan Nilai Hidup Seseorang

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.

 
Kepada yang terhormat para ulama, para pejabat pemerintah, para bapak, ibu hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Sebelum saya melanjutkan apa yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia, melalui mimbar kultum kali ini, marilah terlebih dahulu kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, yang senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan petunjuk-Nya kepada kita sehingga pada saat ini, kita bisa berkumpul  di tempat ini, tanpa ada suatu halangan apapun.

Kemudian, semoga shalawat dan salam senantiasa dicurahkan kepada baginda Muhammad saw. Seorang Nabi yang terakhir dan termulia di antara sekalian para Nabi. Dan sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.
Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Hidup dan kehidupan kita ini adalah anugerah dan karunia Illahi yang harus kita syukuri dan kita isi dengan nilai-nilai positif yang bermutu dan bernilai ibadah, sebelum ajal datang menjemput. Nilai dan mutu hidup seseorang tidaklah ditentukan oleh panjangnya umur dari tahun ke tahun yang dilaluinya, tetapi ditentukan oleh amal kebajikan yang dilakukan sepanjang hayatnya. Hari demi hari, tahun demi tahun silih berganti sepanjang rentang perjalanan waktu yang dilaluinya merupakan lembaran sejarah hidup yang harus kita abadikan dengan amal-amal bakti, kesalehan dan ketakwaan yang bernilai tinggi. Karena nilai tertinggi bagi seseorang dihadapan Tuhan adalah di dasarkan atas ketakwaanya.

Sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu  di sisi Allah  ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu.” (QS: Al-Hujurat: 13)

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Adalah para Nabi dan Rasul serta para ulama dan orang-orang saleh telah mengisi hidup mereka dengan nilai-nilai tinggi yang bermanfaat dan dikenang  sepanjang masa.  Jasad mereka boleh hancur di dalam kubur, tetapi hasil perjuangan mereka akan terus dikenang dan dirasakan manfaatnya sepanjang kehidupan manusia. Bangunan yang megah, gedung-gedung  tinggi pencakar langit yang begitu indah dan mengagumkan akan dapat hancur berantakan hilang digoncang oleh gempa bumi yang sangat dahsyat. Tetapi Kebajikan dan amal saleh yang telah dibangun, dan ditanam oleh mereka akan tetap terus harum dan dirasakan manfaatnya serta diabadikan dalam lembaran sejarah.

Oleh karena itu, marilah kita isi hidup kita ini dengan nilai-nilai positif yang berguna dan bermanfaat, dengan semboyan hidup mulia atau mati syahid. Berjihad  dan berjuang  menegakkan kebenaran agama Allah. Seorang penyair menyatakan:

"Bangkitlah engkau untuk membela dan memperjuangkan pendirian (kebenaran). Sesungguhnya hidup ini adalah, menegakkan akidah dan perjuangan."

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati.

Mengakhiri kultum di kesempatan kali ini, marilah kita berdo'a semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi hidup ini dengan nilai-nilai positif yang bermanfaat, amin. Demikianlah, kurang lebihnya mohon  maaf. Billahi  taufiq wal hidayah, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Perihal Tentang Perkawinan Dalam Islam

Sajadah Muslim ~ Perkawinan (Nikah) menurut bahasa artinya adalah menghimpun dan mengumpulkan. Seperti orang berkata : Pohon­-pohon itu bergoyang-goyang dan berhimpun satu sama lain.

Sedang menurut arti istilah adalah suatu akad yang isinya memperbolehkan masing-masing  dari dua sejoli untuk saling menikmati sesamanya, dengan cara yang diizinkan oleh agama. Disebut demikian,  karena ia mengumpulkan (menghimpun) dua orang menjadi satu.


Dalam agama Islam telah disyariatkan, baik dari Al Qur'an atau  Hadits yang menganjurkan kaum muslimin yang punya kesanggupan dan kemauan agar menikah. Namun demikian, seperti dikemukakan pada ahli hukum Islam (fuqaha). Dimana melakukan pernikahan itu tampaknya bisa menjadi wajib dan sunah disamping bisa menjadi mubah, makruh dan bahkan bisa haram sesuai kondisi orang yang akan melakukannya di samping memperhatikan tujuan dari perkawinan itu sendiri.

Bagi orang yang punya keinginan (nafsu) untuk kawin, juga mempunyai kemampuan untuk melakukannya, maka ia wajib menikah jika ia  sendiri merasa khawatir akan berbuat dosa, terutama zina jika ia tidak menikah. Dan hukum nikah menjadi sunah bagi orang yang telah mempunyai kemampuan dan kemauan untuk  itu  tetapi  tidak dikhawatirkan akan berbuat zina sekiranya ia tidak kawin.

Adapun perkawinan yang hukumnya haram ialah, perkawinan yang  dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan serta tidak    bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban­kewajibannya dalam berumah tangga.   Perkawinan yang demikian akan  membuat kehidupan rumah   tangganya  menjadi  terlantar  dan menyalahi  tujuan mulai    dari  pensyariatan nikah itu sendiri.

Termasuk ke dalam  nikah yang diharamkan ialah, perkawinan yang  dilakukan dengan maksud akan menganiaya seseorang, seperti mengawini seorang  wanita dengan tujuan hanya  agar  si wanita  itu tidak dapat  menikah  dengan  lelaki lain.

Adapun bagi orang  yang  mempunyai  kemampuan untuk menikah tetapi ia sanggup menahan diri dari perbuatan dosa s*ksual terutama jika ia tidak melakukan nikah, maka hukumnya menjadi makruh sekiranya ia tidak  mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi  kewajiban dengan  baik sebagai suami atau  istri.

Dan hukum perkawinan menjadi mubah bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukannya, tetapi  jika tidak melakukan ia tidak khawatir akan berbuat zina dan apabila melakukannya  juga ia tidak akan menterlantarkan istrinya.

Jika tentang masalah perkawinan ini diperhatikan, maka akan tahu bahwa perkawinan itu bukan sekedar  pelampiasan nafsu b*rahi antara dua orang yang berlainan jenis dengan sah. Namun banyak hal-hal  yang harus diketahui  dalam  masalah  ini, terutama dalam kehidupan rumah tangga. Dimana seolah berlangsungnya perkawinan, masing-masing antara suami-istri mempunyai hak dalam aturan hidup berumah tangga. Disamping ada Iarangan yang  harus dijauhi dan ada perintah  yang harus dilaksanakan.

Oleh Ustadz Labib Mz
 
Back To Top