Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Jika Wanita Puasa Sunnah Tanpa Izin Suami

Sajadah Muslim ~ Ada sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh seorang istri. Bolehkah wanita berpuasa sunnah tanpa seizin suami ?


Jawabannya ialah :

Wanita tidak boleh puasa sunat tanpa izin suaminya. Sebab jika puasanya itu nanti akan menghalangi     pemenuhan haknya, yakni hak suami.  Ketetapan syari'at ini diharapkan untuk memantapkan rasa cinta   dan keselarasan dalam kehidupan rumah tangga Muslim, dan menyingkirkan hal­hal yang bisa mengeruhkan suasana.

Dalam hal ini, kami beralasan dengan sebuah hadits yang menyatakan :

"Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedang suaminya ada (di rumah), kecuali dengan izinnya". (HR. Bukhari  dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan :

"Seorang wanita tidak boleh puasa (sunnah), sedang suaminya ada (di rumah) selain di bulan Ramadhan,    kecuali dengan izinya".  (HR. Khamsah)

Dua hadits tersebut juga dijadikan alasan bagi suami yang melarang istrinya melakukan puasa nadzar, kecuali dengan izinnya.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu 'Abbas ra disebutkan, bahwa diantara hak suami atas  istrinya adalah, sang istri tidak boleh puasa sunnah kecuali dengan izinnya. Jika ia tetap puasa, maka  puasanya tidak akan  diterima.

Jadi, jelaslah bahwa wanita puasa sunat tahpa izin suaminya yang ada di rumah, menurut pendapat Jumhur hukumnya haram. Kecuali madzab Syafi'i telah memakruhkannya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Cara Shalat Hari Raya Idul Fitri Dan Idul Adha

Sajadah Muslim ~ Apakah hukum shalat hari raya? Shalat hari raya hukumnya sunnat mu'akad dan waktunya mulai terbit matahari hingga tergelincirnya.

Cara Shalat Hari Raya

Bagaimanakah cara shalat hari raya itu? Cara shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yaitu:
  • Niat (Menyengaja)
Adapun lafazh niat shalat Idul Fitri yaitu:

Ushalli sunnata 'iidil-fithri rak'ataini ma'muuman lillaahi Ta'aalaa. Allaahu Akbar.
Artinya: Saya shalat sunnat Idul Fitri dua rakaat mengikuti imam karena Allah Ta'ala. Allah Maha Besar.

Dan lafazh niat shalat Idul Adha yaitu:

Ushalli sunnata 'iidil-Adhaa rak'ataini ma'muuman lillaahi Ta'aalaa. Allaahu Akbar.
Artinya: Saya shalat sunnat Idul Adha (hari raya haji) dua rakaat mengikuti imam karena Allah Ta'ala. Allah Maha Besar.
  • Takbiratul ihram, yaitu mengucapkan Allaahu Akbar yang pertama. 
  • Membaca doa iftitah. 
  • Bertakbir tujuh kali dan setiap selesai takbir di sunnatkan membaca tasbih. Adapun lafazhnya adalah sebagai berikut:
Subhaanallaahi wal-hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-'aliyyil-'azhiim.
  • Membaca Al-Fatihah dan surat dari Al-Quran pada rakaat pertama. Setelah selesai, lalu rukuk, i'tidal dan sujud sebagaimana shalat biasa. Kemudian berdiri lagi untuk rakaat yang kedua dengan bertakbir lima kali, dan pada setiap antaranya membaca tasbih. 
  • Membaca Al-Fatihah dan surat dari Al-Quran pada rakaat kedua, sesudah itu, lalu ruku', i'tidal, sujud, tahiyat dan salam.

Khutbah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

Apakah yang disunnatkan bagi laki-laki setelah selesai shalat hari raya ? Adapun bagi jamaah laki-laki setelah selesai shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) disunnatkan berkhutbah dua kali. Pada khutbah yang pertama hendaklah bertakbir (Allaahu Akbar) 9 kali, dan pada khutbah yang kedua bertakbir 7 kali dengan berturut-turut. Dalam hari raya Idul Fitri hendaklah yang berkhutbah menerangkan hal fitrah, dan zakat harta. Dan dalam hari raya Idul Adha hendaklah menerangkan hukum qurban dan haji.

Sunnat di Dalam Hari Raya

Ada berapakah hal-hal yang disunnatkan bagi orang yang akan mengerjakan shalat hari raya ? Adapun bagi orang yang akan mengerjakan shalat hari raya disunnatkan enam hal, yaitu:
  • Mandi (membersihkan diri) serta berniat. Adapun lafazh niatnya yaitu: Nawaitul-ghusla min yaumi 'Iidil-Fithri ('Idil-Adha) sunnatan lillaahi Ta'aalaa. Artinya: Saya niat mandi pada hari raya Idul Fitri/Idul Adha sunnat karena Allah Ta'ala.
  • Berpakaian yang terbagus diantara pakaian yang dimiliki.
  • Memakai harum-haruman.
  • Memotong kuku yang panjang.
  • Menyegerakan datang ke masjid.
  • Bertakbiran.

Waktu Bertakbiran

Kapankah waktu bertakbiran di hari raya ? Waktu bertakbiran di hari raya yaitu:
  • Hari Raya Fitrah mulai dari terbenam matahari di akhir bulan Ramadhan (malam hari raya) hingga imam mengerjakan shalat hari raya, di waktu pagi.
  • Hari Raya Haji (Idul Adha) mulai dari shubuh hari Arafah atau tanggal 9 bulan Dzulhijjah hingga waktu Ashar di hari Tasyriq tanggal 13 bulan Dzulhijjah, (dilakukan pada setiap selesai shalat fardhu).

Lafazh Takbiran

Bagaimanakah lafazh takbiran di hari raya? Lafazh takbiran di hari raya yaitu:

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahil-hamd. 3 x

Allaahu Akbar kabiiraa, wal-hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallahi bukrataw wa 'ashiila. Laa ilaaha illallaahu wa laa na'budu ilaa iyyaah, mukhlishiina lahud-diina wa lau karihal-kaafiruun. Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah; wa a'azza jundahuu, wa hazamal-ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar Allaah Akbar wa lillaahil-hamd.

Oleh S.A. Zainal Abidin
 

Khutbah Idul Fitri: Keutamaan Idul Fitri

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Pada hari ini seluruh ummat Islam mengumandangkan takbir tahlil dan tahmid sebagai perwujudan rasa syukur dan bahagia atas datangnya Idul Fitri yang mubarak ini. Idul Fitri adalah hari raya kaum Muslimin sebagai penutup puasa Ramadhan sebulan penuh. Ketika Rasulullah SAW dengan ummatnya  masih berada di  Mekkah belum ada puasa  Ramadhan oleh karena  itu belum ada pula Shalat Idul Fitri.

Dalam sebuah hadits  yang  diriwayatkan  oleh  Annas  bin Malik ada disebutkan  bahwa  ketika Nabi  Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati bahwa orang-orang Ansar di Madinah memiliki  dua hari gembiraan. Pada kedua hari  itu mereka bermain dan bergembira, lalu Rasulullah SAW, bertanya kepada mereka, hari apakah ini ? mereka  menjawab bahwa pada kedua hari itu dimasa  jahiliyah kami bermain dan bergembira, kemudian Rasulullah SAW  menjawab : bahwa Allah  SWT  telah mengganti kedua  hari itu dengan yang lebih baik yaitu ldul Adha dan ldul Fitri.

Allahu Akbar 3x walillahil  hamd


Kaum MusIimin Jamaah led Yang Berbahagia

Hari led adalah mengandung makna yang amat mendalam,  led artinya hari raya ld mengandung makna keberuntungan. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi yaitu Anas bin Malik berkata: ada 5 hari raya bagi seorang mukmin, yaitu:
  1. Setiap hari yang kita lalui dan kita tidak melakukan dosa maka itu adalah hari raya.
  2. Pada hari kita meninggalkan dunia dengan iman dan syahadat maka itu adalah hari raya.
  3. Pada hari kita meniti diatas Sirathal Mustaqim dengan selamat maka itu adalah hari raya bagi kita.
  4. Pada hari kita masuk surga dan selamat dari Neraka maka itu adalah hari raya bagi kita.
  5. Pada hari kita memandang kepada Allah Yang Maha Agung dan Indah maka itu adalah hari raya bagi kita.
Berbicara tentang hari raya ldul Fitri, maka ada dua kegembiraan yang terpadu menjadi  satu  dalam   hati setiap mukmin, yaitu:
  1. Kita bergembira karena  kita  telah  mengerjakan  kewajiban kita kepad Allah swt  dengan   sebaik-baiknya.  Dalam bulan suci Ramadhan yang Ialu kita telah mengerjakan puasa  Ramadhan, shalat Tarawih dan Witir, memberi buka puasa, membaca Al Qur'an,  mengeluarkan zakat fitrah dsb.
  2. Kita juga bergembira,  dengan janji  Allah  swt dan rasul-Nya  untuk memberikan balasan   yang  terbaik atas semua amal  saleh  yang telah kita kerjakan.
Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Dalam bulan suci Ramadhan yang baru  saja meninggalkan kita, kita telah mengerjakan perintah   Allah SWT  dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 183 :

"Wahai sekalian orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu sekalian untuk berpuasa, sebagaimana puasa telah diwajibkan kepada ummat-ummat sebelum kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa”.

Sungguh suatu kehormatan bagi  kita  karena  dipanggil  oleh Allah dengan sapaan yang mulia dan terhormat. Wahai sekalian orang­orang yang beriman lalu datang perintah untuk mengerjakan puasa. Bagian akhir ayat ini menegaskan bahwa kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan yang mulia pula yaitu agar kita bertaqwa, dan dengan taqwa kita akan memperoleh kebahagia di dunia dan di akhirat.

Pada hari raya Idul Fitri ini kita bergembira pula karena janji Allah dan Rasulnya untuk memberikan balasan yang amat membahagiakan kita. Berbicara tentang pembahasan dan pahala yang akan  kita peroleh  dapat  kita  lihat  dalam firman Allah  SWT surat Al Bayyinah ayat 7-8 :

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka itulah sebaik-baik  manusia. Balasan mereka disisi Tuhan adalah syurga  Aden, mengalir  dibawahnya sungai-sungai  mereka kekal didalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha  kepadaNya.  Yang  demikian  itu adalah bagi orang-orang  yang  takut kepada Tuhannnya."

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Pada akhir Ramadhan kita kaum Muslimin telah pula menunaikan zakat fitrah. Zakat fitrah ini erat kaitannya dengan makbulnya ibadah puasa kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan abu Hafs Rasulullah SAW bersabda :

"Puasa Ramadhan tergantung antara langit dan bumi tidak diangkat melainkan dengan zakat fitrah".

Hadits ini menjelaskan bahwa puasa kita tidak sampai kepada Allah, tanpa zakat fitrah. Pada hadits yang lain riwayat Abu Daud ada dijelaskan bahwa puasa itu membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang tidak senonoh.

Tetapi ada hadits Nabi yang merupakan perintah beliau untuk menyelamatkan fakir miskin dari meminta-minta pada hari raya idul fitri. Dalam sebuah hadits riwayat Daraqutmi beliau bersabda:

"Selamatkanlah fakir miskin dari kehinaan meminta-minta pada hari raya idul fitri ini ".

Jadi ibadah puasa adalah ibadah yang membentuk pribadi Muslim agar disiplin, sabar dan etis serta mampu mengendalikan diri. Sedangkan zakat fitrah untuk membersihkan diri kita, agar puasa kita makbul dan yang terpenting adalab agar kita menyayangi sesama muslim yang kehidupannya    masih dibawah  garis  kemiskinan yang jumlahnya cukup banyak. Jumlah orang miskin sekarang  tidak kurang 40% penduduk Indonesia termasuk kategori miskin. Ada kalimat yang cukup indah dari seorang ulama yang bemama Muhammad Syaltut, bekas Rektor Universitas Al Azhar, beliau  menggambarkan zakat fitrah sebagai :

"Zakat fitrah itu adalah seorang Muslim kepada sesamanya Muslim"

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Sesudah kita shalat  Idul  Fitri  dan  selesai  mendengarkan Khutbah Idul  Fitri, maka  dimulailah masa  dan babakan silaturahmi untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lain dimana selama sebulan penuh  kita sibuk dengan puasa, shalat, zikir, membaca AI­Qur'an dan ibadah-ibadah lainnya.

Memang ada hadits Rasulullah SAW  yang diriwayatkan oIeh Bukhari Muslim  artinya : Barang siapa yang berpuasa dalam bulan suci ramadhan karena Iman dan ikhlas diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.

Akan tetapi dosa antara sesama manusia tidak termasuk dalam cakupan hadits  tersebut.  Bila  kita menganiaya atau menyakiti seseorang, hendaklah kita minta maaf kepada orang tersebut. Begitu pula hutang kepada seseorang hendaklah kita lunasi langsung, Dalam hubungan antar sesama manusia maka yang  terpenting adalah hubungan kita dengan orang tua kita. Dalam AI-Qur'an surat Al Isra ayat 23 Allah SWT berfirman :

"Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua duannya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengucapkan “ah” kepada keduannya, dan jangan membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Kunjungan silaturahmi hendaknya juga kita lakukan kepada ulama, atasan kita, tetangga, teman sekerja dan sebagainya, Dan bila ada diantara sahabat kita yang berselisih, hendaklah kita mengamalkan firman Allah dalam surat Al Hujarat ayat 10 yang berbunyi :

"Sesungguhnya orang mukmin itu adalah bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara saudaramu".

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari Muslim beliau bersabda :

"Dan menjadilah kamu semua sebagai hamba Allah yang bersaudara sebagalmana yang telah diperintahkan oleh Allah".

Mudah-mudahan dengan hikmah puasa dan Idul Fitri kita semua kembali kepada fitrah, saling menyayangi antara satu sama yang lain, sehingga kita menjadi masyarakat marhamah.  
                '
PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid.

Kultum: Azab Bagi Orang Yang Enggan Berzakat

MUKKADIMAH

Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertaMa-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.


Saudara, bapak, ibu sekalian yang saya hormati

Adapun mengenai siksa bagi orang yang enggan mengeluarkan zakat dari hartanya yang telah  mencapai batas tertentu menurut ketetapan syari'at (nishab) dapat kita  ketahui dari keterangan firman Allah swt yang artinya:

"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah  kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilali harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakan sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS. At Taubah: 34-35).

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada malam Nabi saw diisra'kan, beliau melewati (menjumpai) suatu kaum di bagian belakang  dan depan mereka terdapat banyak tambalan-tambalan.  Mereka di gembalakan sebagaimana  binatang di suatu tempat yang tumbuhannya adalah pohon dhari' (pohon berduri) dan zaqqutn (kedua pohon itu adalah makanan penghuni   neraka) dan bara neraka jahannam. Beliau bertanya: "Siapakah mereka itu, wahai Jibril?" Jibril menjawab:  "Mereka adalah orang-orang  yang tidak menunaikan zakat harta bendanya.  Allah tidak  menganiaya  mereka  dan tidaklah  Allah  berlaku zalim terhadap hamba-hamba-Nya."

Dalam hadis  lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:  "Orang yang membangkang, tidak mau mengeluarkan zakat  dalam pandangan Allah,  seperti  kedudukan orang Yahudi dan Nasrani. Orang yang membangkang  sepersepuluh dalam pandangan Allah sama seperti kedudukan orang Majusi.  Sedangkan orang-orang  yang memhangkang dari mengeluarkan zakat  dan  sepersepuluh dari hartanya, mereka adalah orang­orang yang dilaknat melalui lisan para malaikat,  dan para nabi, serta tidak diterima syahadatnya." Beliau bersabda: "Beruntunglah orang yang menunaikan zakat dan sepersepuluh,  Dan  sungguh sangat beruntung orang yang tidak tersiksa karena zakat kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang menunaikan zakat dari hartanya, maka Allah akan membebaskan siksa kubur darinya dan Allah mengharamkan dagingnya di makan api neraka, serta Ia mewajibkan   baginya masuk surga tanpa hisab dan dia tidak akan merasakan kehausan pada hari kiamat."

Saudara, bapak, ibu sekalian yang saya hormati

Rasulullah saw bersabda:  "Pada hari  kiamat   orang-orang  kaya mendapatkan kecelakaan besar,  karena  mereka  telah  mengeksploitasi hak-hak  orang-orang  fakir, Orang-orang  fakir mengatakan,   sesungguhnya mereka telah  menzalimi hak-hak kami yang telah diwajibkan atas mereka. Lalu  Allah  swt berfirman:  'Demi  kemuliaan  dan keagungan­Ku, Aku akan mendekatkan kalian (orang-orang    fakir) pada-Ku,  dan menjauhkan mereka  dari-Ku.'  Kemudian Rasulullah  saw membaca firman Allah  swt: "Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang  tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (QS. AI-Ma’arij : 23-24).

Akhirnya, marilah kita simak pula firman Allah swt:

"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka  bakhilkan itu, akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat." (QS. Ali Imran: 180).

Saudara, bapak, ibu sekalian yang saya hormati

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa  melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk  dalam  golongan orang-orang yang bertakwa yang memperoleh  keberuntungan besar, utamanya kelak  di akhirat.  Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf  atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi  wabarakatuh.

Oleh Ust. Abdullah Farouk & Ust. MS. Ibnu Hasan

Khutbah Jumat: Keutamaan Shadaqah

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang akan dan senantiasa memberikan balasan yang banyak bagi orang­orang yang dengan ikhlas membelanjakan hartanya dijalan Allah.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya dan para pengikutnya yang baik sampai hari pembalasan.

Kemudian dari pada itu marilah kita tingkatkan kwalitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT demi memperoleh kebahagiaan di dunia hingga di akhirat kelak, dan mudah-mudahan kita belum mati sebelum menjadi Muslim yang taat menjalankan segala perintah Allah dan rasul-Nya serta menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.


Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Shadaqah artinya pembenaran, pembenaran  dalam  kaitannya dengan mengeluarkan harta dijalan Allah SWT. Orang yang gemar bershadaqah secara lahiriyyah kelihatannya rugi karena telah mengeluarkan hartanya  namun kita harus yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan suatu kebaikan yang kita tidak dapat menduga sebelumnya sekaligus balasan pahala yang akan menjadi modal bagi kehidupan di akhirat kelak.

Istilah shadaqah mencakup Zakat dan Infaq, tetapi dalam ilmu fiqhi shadaqah adalah bantuan yang kita berikan kepada fakir miskin karena mengharap ridha dari Allah SWT. Orang yang bershadaqah dengan penuh rasa ikhlas dan semata-mata mengharapkan ridha dari Allah SWT, akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 261 :

"Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah, bagaikan satu biji, lalu  tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkainya terdapat seratus buah. Demikian Allah SWT melipatgandakan pahala bagi orang yang dikehendakinya".

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Keutamaan shadaqah dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Shadaqah akan melindungi kita dari siksa api neraka.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadits yang sanadnya diriwayatkan oleh Adiy bin Hatim bersabda :

"Hendaklah kamu menghindari neraka, walaupun bershadaqah dengan sepotong kurma".

Dalam Hadits ini Nabi Muhammad SAW seolah-olah berkata buatlah hijab atau dinding antara kamu dan api neraka dengan cara bershadaqah. Betapapun kecilnya shadaqah jika didasari dengan niat ikhlas dan diberikan sesuai dengan sasarannya yaitu orang yang berhak menerimanya Insya Allah  akan dibalas dengan pahala yang berlipatganda.

2. Shadaqah dapat menghapus dosa-dosa.

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat-sahabatnya pada suatu waktu beliau bersabda, sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :

"Apakah kalian ingin aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? salah seorang menjawab, benar ya .. Rasulullah, Nabi bersabda : Puasa itu adalah perisai, dan shadaqah itu menghapus kesalahan  sebagaimana air mematikan api".

3. Shadaqah mencegah bala dan bencana

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Raafi' bin Khudaij, Rasulullah SAW bersabda : "Shadaqah itu menutup tujuh puluh pintu kejelekan (bala")

Dalam Hadits yang menggunakan redaksi lain dikatakan : "Shadaqah itu menutup tujuh puluh  macam dari bala”.

Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk mengeluarkan dan memberikan shadaqahnya pada waktu pagi agar dihari itu mereka terhindar dari bala dan bencana.

4. Shadaqah menghapus panasnya kubur

Dalam sebuah Hadits yang sanadnya diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya shadaqah pasti akan memadamkan penghuninya dari panasnya kubur. Dan  sesungguhnya nanti  di  hari  kiamat  orang mukmin akan bernaung di bawah shadaqahnya".

Diisyaratkan dalam sebuah Hadits bahwa kubur itu bisa merupakan  taman-taman  syurga  dan  bisa juga merupakan sumur­sumur neraka. Begitu pula di padang Mahsyar, jarak matahari dengan kepala kita akan semakin dekat. Ada Hadits yang mengatakan bahwa jaraknya dua hasta dan ada pula yang  mengatakan dua mil.  Oleh karena itu dengan senantiasa bershadaqah dengan harta yang kita miliki kita akan terhindar dari panasnya kubur dan padang mahsyar.

5. Shadaqah menambah umur dan menghindarkan kematian yang jelek

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Amru bin Auf, Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya shadaqah seorang Muslim akan menambah umurnya dan menghindarkan ia dari kematian yang jelek,  dan dengan shadaqahnya itu akan menghilangkan dari diri mereka sifat sombong, fakir dan perasaan bangga".

Sebagaian ulama berkata bahwa yang dimaksud shadaqah menambah umur adalah umur orang itu berkah dan banyak keberkahannya, sedangkan yang dimaksud menghindarkan seseorang dari kematian yang jelek  adalah kematian yang Suul Khatimah atau mati dalam keadaan kufur.

6. Shadaqah itu akan menambah harta seseorang

Walaupun secara lahiriyyah seolah-olah shadaqah itu merugikan bagi yang bershadaqah tetapi pada hakekatnya harta yang dipakai bershadaqah akan diganti oleh Allah dengan yang  lebih banyak. Yang dimaksudkan bershadaqah ini tentu bukan seluruh harta yang  kita  miliki, karena  kita  masih  memiliki ahli waris yang akan mewarisi apa yang kita miliki. Dalam surat Saba ayat 39 Allah SWT berfirman :

"Dan apa yang  kamu  belanjakan dari hartamu  maka Allah  akan menggantinya”.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, tentu saja bila Allah mengganti shadaqahnya pasti akan lebih banyak. Dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Ahmad, Allah berfirman :

"Belanjakanlah hartamu dijalan Allah, saya pasti ganti".

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Bagaimanakah caranya agar shadaqah kita lebih banyak pahala dan diridhai oleh Allah?

1. Hendaknya kita menshadaqahkan harta yang kita senangi, dengan jumlah yang wajar. Dalam surat ali-Imran ayat 92 Allah SWT berfirman :

"Kamu tidak akan mencapai kebajikan (derajat yang tinggi) sebelum engkau membelanjakan hartamu yang engkau cintai".

Ketika ayat ini diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi Muhammad  SAW menyampaikannya kepada ummat Islam, maka berlomba-lombalah sahabat beliau menshadaqahkan dan mewakafkan harta yang paling ia senangi. Ada yang mewaqafkan tanah, kebun, sumur, senjata dan semacamnya. Dan demikian pula Allah SWT menyindir orang-orang yang  bershadaqah dengan harta yang jelek sedang ia sendiri mengetahuinya. Sebagaimana dalam  firmannya:

"Dan ia shadaqahkan dijalan Allah yang ia sendiri tidak senangi”.

Dalam surat al-Baqarah ayat 271 Allah SWT berfirman :

"Dan bahwa engkau menyembunyikan shadaqahmu, lalu kamu berikan kepada orang faqir, maka itulah yang lebih baik bagi kamu".

Pada akhimya marilah kita berlomba-lomba bershadaqah dijalan Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rezki yang lebih berkah kepada kita sekalian. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid.

Khutbah Jumat: Kerukunan Umat Beragama

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Pertama-tama marilah kita tiada hentinya memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, yang telah menetapkan syurga di bawah telapak kaki Ibu dan senantiasa memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian.

Shalawat serta salam mari pula kita sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah banyak memberikan contoh suritauladan yang baik bagi ummat manusia.

Mari  pula  kita tingkatkan  kualitas  Iman dan Taqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya Iman dan Taqwa. 


Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Sebagai umat Islam yang tinggal di Negara Indonesia patutnya kita bersyukur kepada Allah,  Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan dan mentaqdirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan tanah air yang luas dengan kekayaan alam yang  melimpah, sebagai nikmat dan karunia yang wajib kita syukuri agar Allah SWT tidak murka kepada kita akibat kelalaian kita mensyukuri nikmat-Nya. Demikian peringatan Allah dalam surat Ibrahim  ayat 7 :

"Apabila kamu bersyukur terhadap nikmat-Ku kepadamu maka akan Aku tambah dan jika kamu kufur maka siksa-Ku amat pedih”.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk yang terdiri dari beragam etnik, adat istiadat, budaya, bahasa bahkan agama. Untuk itu diperlukan perundang-undangan yang baik, yang  dapat  menaungi seluruh komponen  bangsa.  Khususnya terhadap masalah SARA yang sangat rawan jika tidak disertai dengan pengertian untuk menerima perbedaan, Sehingga para pendiri bangsa kita merumuskannya dalam UUD 45 pasal 29 :
  • Ayat 1. Negara berdasar atas ke Tuhanan Yang Maha Esa
  • Ayat 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya  dan   beribadah menurut agamanya masing­masing.
Berlandaskan pada pasal tersebut maka dibentuklah suatu lembaga formal yang menjadi kelengkapan perangkat negara yaitu Kementerian Agama yang memiliki kewajiban untuk mengatur jalannya kerukunan umat beragama.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Sejak zaman Nabi  Muhammad SAW suasana keberagaman adalah menjadi warna kehidupan sosial  kemasyarakatan, Rasulullah dapat mengaturnya dengan  baik  sehingga  ajaran  Islam dapat  diterima sebagai agama Rahmatal  Lil 'Alamin, dengan prinsip dasar :

“untukmu agamamu dan untukku agamaku”.

Ketika Rasulullah SAW tinggal di Mekkah  dalam  hidup berdampingan dengan umat lain, Allah SWT memberikan petunjuk, sebagaimana dalam firman-Nya surat Yunus ayat 99 :

"Seandainya Tuhanmu menghendaki maka akan berimanlah semua manusia yang ada di bumi. Apakah engkau yang memaksa manusia sehingga mereka beriman ?”.

Dari ayat tersebut ada dua hal penting yang perlu kita ketahui :

Pertama, bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan beriman(beragama Islam).

Kedua, tidak boleh ummat Islam memaksa orang lain untuk memeluk Islam.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Ketika Nabi Muhammad SAW bermukim di Madinah, ada sahabat beliau  dari  kalangan Anshar, yang  anaknya beragama lain. Sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah SAW, sikap apa yang harus diambilnya, apakah anaknya harus dipaksa masuk Islam atau dibiarkan saja dalam agamanya. Malaikat Jibril segera membawa ayat 256  dari  surat  Al-Baqarah  kepada  Nabi  Muhammad  SAW,  Allah berfirman :

"Tidak ada paksaan dalam  agama, karena  telah jelas jalan  yang benar dari pada jalan yang sesat”.

Yang dimaksud tidak ada paksaan dalam agama adalah bahwa tidak boleh memaksa orang agar memeluk agama Islam. Alasannya karena Islam adalah agama yang benar. Tentu bila kita memaksakannya akan menurunkan martabat Islam dan ummat Islam.

Banyaknya  gejolak  yang  berbau  SARA  di  bangsa  kita  ini seperti kasus Ambon, Poso, Sampit, Papua, dan lain sebagainya walaupun pemicunya sangat kompleks tetapi orang lebih melihat akibatnya adalah pertentangan Agama hal ini tentu disebabkan karena  kurang dipahaminya  secara baik makna  pluralisme  dan pentingnya kerukunan hidup  antar umat beragama yang menjadi alat pemersatu  dari perbedaan itu. Oleh karena ummat  Islam di Indonesia  adalah mayoritas maka  kita harus banyak mengambil peran  munculnya persatuan dan kesatuan bangsa sebagai aplikasi dari pernyataan Islam adalah agama Rahmatal Lil Alamin, Insya Allah bangsa dan negara kita akan semakin kondusif sehingga memudahkan proses pembangunan disegala bidang.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Berbicara tentang substansi  ajaran  agama, maka kita tidak dapat mencampur adukkan ajaran  agama yang  ada, karena itu juga bertentangan dengan prinsip ajaran disetiap agama. Hal ini dapat  kita pelajari dari firman Allah SWT dalam surat  AI-Maidah ayat 48 :

"Kami berikan aturan dan jalan yang terang, sekiranya Allah menghendaki Ia pasti menjadikan kamu satu ummat saja. Tetapi Ia ingin menguji terhadap apa yang  telah diberikan kepadamu. Maka berlomba lombalah dalam kebajikan, kepada Allah tempat kembalimu. Kemudian Allah akan memberitahukan kepadamu apa-apa yang kamu perselisihkan".

Ayat ini mengandung beberapa makna yang penting yaitu:
  1. Allah yang menciptakan agama-agama itu
  2. Bila Allah menghendaki maka agama hanya satu saja
  3. Bermacam-macamnya agama merupakan cobaan Allah. Maka hendaklah kita berlomba-lomba mengerjakan kebajikan 
  4. Tempat kita kembali adalah Allah, kemudian Allah SWT  akan menjelaskan apa-apa  yang kita perselisihkan.
Kita ketahui bersama bahwa ayat yang terakhir diturunkan oleh Allah adalah terdapat  dalam surat   Al-Maidah ayat 3, ayat ini memberikan isyarat agar ummat Islam lebih toleran dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang  Berbabagia

Agama Islam adalah agama  yang diridhai oleh Allah SWT dan ummatnya adalah ummat yang terbaik, karena itu pengertian ini haruslah diterjemahkan  dalam kehidupan yang  nyata,  wujudnya dapat berupa tolong menolong, hormat menghonnati, saling menghargai, hidup berdamai dengan ummat lain, dan lain-lain, atau pendek kata bahwa kita harus melakukan perbuatan yang diridhai oleh Allah SWT sehingga dengan demikian upaya untuk membangun peradaban kemanusiaan dapat terwujud. Sejalan dengan hal tersebut Allah SWT berfirman dalam surat AI-Mumtahanah ayat 8 :

"Allah tidak melarang kamu berlaku baik kepada orang-orang yang memerangi kamu karena agama tidak mengusir kamu dari negerimu, hendaklah kamu berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil kepada mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil".

Dalam ayat ini Allah SWT mendorong agar kita berbuat baik padanya, memperlakukannya  dengan  adil karena Allah mencintai orang yang berlaku adil. Bagi ummat Islam berlaku adil adalah wajib baik kepada  sesamanya maupun kepada yang lain bahkan terhadap musuhpun kita dituntut berlaku adil. Ada ayat AI-Qur'an yang hendaknya kita pegang teguh yaitu :

"Dan janganlah karena kamu membenci suatu golongan sehingga kamu berlaku tidak adil kepada mereka".

Marilah kita sekalian memperbaiki kerukunan kita sesama Muslim, meningkatkan kerukunan sesama ummat beragama dan juga kita perbaiki hubungan antara umat beragama dengan pemerintah. Insya Allah dengan demikian Negeri kita  akan  aman  tentram  dan sejahtera yang diridhai oleh Allah SWT, Amin Ya Rabbal 'Alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Bolehkah Wanita Mandi Junub Tidak Membasahi Rambutnya

Sajadah Muslim ~ Boleh wanita mandi junub tanpa membasahi rambutnya ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, para ulama telah berbeda pendapat, Sebagaimana mereka wajib membasahi rambutnya, tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan tidak kebasahan. Sebagian yang lain tidak kewajiban membasahi seluruh rambutnya, akan tetapi cukup dengan menuangkan air tiga kali diatas kepalanya, sehingga tidak kewajiban pula membuka sanggul. 

Pendapat pertama, bahwa wanita mandi junub ia wajib membasahi seluruh rambutnya dengan  sempurna tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan. Mereka beralasan hadits :

"Ali bin Abi Thalib ra berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa membiarkan satu tempat rambut yang berjunub dengan tiada kena air, maka Allah akan membuat kepalanya begini dan begini dari neraka". ali bin Abi Thalib berkata : "Karena itu aku memotong rambutku". (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Juga beralasan hadits sebagai berikut :

"Abu Hurairah ra berkata : "Rasulullah saw pernah bersabda: "Setiap rambut ada janabatnya. Karena itulah maka basahilah rambutmu dan bersihkan kulitmu". (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Baihaqi)

Kedua hadits diatas telah memerintahkan kepada kita didalam mandi junub supaya membasahi seluruh rambut tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan agar kita selamat dari ancaman siksa Allah. Adapun alasan yang dikemukakan oleh golongan kedua, bahwa cukup dengan menuangkan air ke kepala tanpa membuka sanggul, mereka beralasan hadits :

Telah berkata Ummu Salamah ra kepada Rasulullah saw: “Aku adalah seorang wanita yang menyanggul rambutku. Karena itu, apakah aku harus membuka sanggul itu apabila (mandi) haidh dan jinabat?" beliau menjawab : "Tidak usah, melainkan cukuplah kamu menyiram kepalamu 3 kali, maka kamu bisa jadi bersih". (HR. Muslim)

Walhasil, golongan pertama harus membasahi seluruh rambut tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan, sedang golongan kedua cukup menyiramkan air tiga kali di kepala tanpa membuka sanggul.

Menanggapi kedua pendapat ini, kami cenderung pada pendapat kedua mengingat haditsnya shahih. Berbeda dengan pendapat pertama, keshahihan haditsnya disangsikan oleh sebagian besar ahli hadits.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Bolehkah Wanita Belum Mandi Haidh Bercampur Suami?

Sajadah Muslim ~ Bolehkah wanita yang sudah bersih dari haidh tetapi ia belum mandi lantas bercampur dengan suami ?


Jawabannya ialah :

Wanita yang bersih dari haidh itu tidak boleh dis*tubuhi oleh suami, kecuali bila ia sudah mandi.  Kebanyakan ulama' menghukumi haram, karena mereka beralasan firman Allah berikut ini :

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidh.  Katakanlah : "Haidh  itu adalah kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum  mereka sud. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang  diperintahkan Allah kepadamu....".  (QS. Al Baqarah : 222)

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Bolehkah Wanita Baca Dan Sentuh Al Quran Saat Hadats Besar

Sajadah Muslim ~ Bolehkah wanita haidh (berhadats besar) membaca atau menyentuh Al Quran ?


Jawabannya ialah :
Banyak ulama yang mengharamkan pada wanita membaca Al Quran dalam keadaan haidh atau junub. Mereka beralasan dengan hadits berikut ini :

Ibnu Umar ra berkata : "Nabi saw bersabda: "Tidak boleh membaca Al Quran orang  yang junub dan tidak boleh (juga) wanita haidh". (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Majah)

Juga mereka beralasan hadits berikut ini :

Jabir ra berkata: "Nabi saw bersabda: "Wanita haidh dan nifas tidak boleh membaca sesuatu dari pada AI Quran". (HR. Daruquthni).

Tetapi kedua hadits ini oleh sebagian ulama ahli hadits tidak mau menerimanya, karena dipandang sebagai hadits yang lemah. Dimana hadits pertama dalam isnadnya terdapat orang yang bernama Isma'il bin 'Iyasy, dia adalah dilemahkan oleh para Imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Ahmad dan Iainnya.

Sedang pada hadits yang kedua dalam isnadnya terdapat orang yang bernama Muhammad bin Fadhil, dia adalah tergolong  orang yang  terkenal tukang pemalsu hadits.

Walhasil, tentang pengharaman wanita haidh dan berhadats besar dalam menyentuh dan membaca  Al Qur'an tidak ada alasan yang kuat. Karena itu, maka kami kembalikan pada jawaban sebelumnya, bahwa dalam segi I'tiqadnya orang muslim itu adalah suci, kenapa musti berwudhu bila akan menyentuh atau membaca Al Qur'an. Toh Al Qur'an itu bacaan orang muslim, bukan orang non muslim.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Wudhu Bersentuhan Dengan Wanita

Sajadah Muslim ~ Ada sebuah pertanyaan, batalkah wudhu jika bersentuhan dengan wanita ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, para ulama ada dua pendapat.  Adapun pendapat pertama bersentuhannya lelaki dengan wanita yang boleh dik*win tanpa berlapis, baik dengan sy*hwat atau tidak dapat membatalkan wudhu. Sedang pendapat yang kedua bersentuh lelaki dengan wanita itu tidak membatalkan wudhu'. Mereka sama berlandaskan dalil Al Qur'an menurut faham masing-masing. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

".....atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah  kamu  dengan tanah  yang  suci .....". (QS. An Nisa'  : 43)

Kata (lamasa) disini golongan pertama mengartikan bersentuhan kulit, sebagaimana bersentuhan suatu barang dengan lainnya. Sedang golongan kedua mengartikan bers*tubuh, mengingat bahasa Al Qur'an itu bahasa yang halus. 

Pendapat kedua ini telah didukung oleh sebuah hadits yang menyatakan:

“Aisyah ra berkata: “Adalah aku tidur dihadapan Rasulullah saw sedang  kedua kakiku menghadap  beliau, maka apabila sujud bellau memecitku, lalu aku menarik kakiku, kemudian jika beliau berdiri, aku ulurkan kakiku". Aisyah berkata : "Bahwa rumah-rumah pada masa itu tidak berlampu". (HR. Bukhari)

Juga ada hadits yang menyatakan:

“Aisyah ra berkata : "Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur, lalu akupun meraba beliau dalam gelap, maka tersentuhlah dua tanganku pada telapak kakinya yang tercacak, sedang beliau didalam sujud". (HR. Muslim, Tirmidzi dan Baihaqi)

Dengan demikian, menurut hadits diatas bersentuhan kulit antara lelaki dengan perempuan itu tidak  membatalkan wudhu.      
                .
Jadi, kata "lamasa" pada ayat diatas sangatlah tepat bila diartikan bers*tubuh, bukan bersentuhan kulit. Sebagaimana bersentuhan suatu barang dengan yang lain.

Oleh Ustadz Labib Mz
 
Back To Top